function setAttributeOnload(object, attribute, val) {
if(window.addEventListener) {
window.addEventListener("load",
function(){ object[attribute] = val; }, false);
} else {
window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; });
}
}
Home
Cerita Dewasa
Lowongan Kerja
Berita
Games
Cerita Bokep
Rangkuman serta kumpulan cerita panas, cerita panas tante, cerita panas tante girang, kumpulan cerita dewasa, cerita panas tante-tante
var AdBrite_Title_Color = '0000FF';
var AdBrite_Text_Color = '000000';
var AdBrite_Background_Color = 'FFFFFF';
var AdBrite_Border_Color = 'FFFFFF';
var AdBrite_URL_Color = '191919';
try{var AdBrite_Iframe=window.top!=window.self?2:1;var AdBrite_Referrer=document.referrer==''?document.location:document.referrer;AdBrite_Referrer=encodeURIComponent(AdBrite_Referrer);}catch(e){var AdBrite_Iframe='';var AdBrite_Referrer='';}
document.write(String.fromCharCode(60,83,67,82,73,80,84));document.write(' src="http://ads.adbrite.com/mb/text_group.php?sid=2016752&zs=3436385f3630&ifr='+AdBrite_Iframe+'&ref='+AdBrite_Referrer+'" type="text/javascript">');document.write(String.fromCharCode(60,47,83,67,82,73,80,84,62));
var infolink_pid=236171;
var infolink_wsid = 0;
Belasan Santriwati Dicabuli
Belasan mahasiswi yang menjadi santri disebuah pondok pesantren di Gunungpati diduga dicabuli oleh seorang guru spiritual, yang kerap dipanggil guru hakikat. Tiga santriwati yang menjadi korban pencabulan itu melapor ke Mapolrestabes Semarang.
Tiga korban yang melapor ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Semarang itu adalah Ri(20), warga Semarang Timur, Si (21), warga Tegal dan Mi (24) warga Brebes. Sebelumnya, salah seorang santri lain, Na (20), telah melaporkan kasus ini terlebih dahulu, Guru spiritual yang dilaporkan itu bernama So (60), warga Kandri Gunungpati.
Kasus itu dilaporkan oleh tim yang terdiri atas santri dan santriwati, beberapa diantaranya telah dikeluarkan dari pesantren itu. Salah satu anggota tim, Andi Mahardika (23) mengatakan, dugaan pencabulan ini telah berlangsung sejak beberapa tahun silam. "Namun beberapa santri yang hendak melaporkan dihalang - halangi dan banyak yang dikeluarkan dari pesantren. Bahkan mereka (para pelapor) dituding kafir," kata Andi, saat ditemui di Mapolrestabes Semarang kemarin.
Dia menceritakan, pesantren itu dihuni sekitar 180 santri, yang hampir semuanya berstatus sebagai mahasiswa. Pelaku pencabulan merupakan orang yang ditunjuk sebagai guru spiritual, dia bertugas mengobati santri / santriwati bila menghadapi persoalan atau sakit.
"Santri yang sakit hanya diberikan air putih, sementara kalau santriwati pengobatanya diolesi dengan minyak pada kepalanya. Santriwati itu lalu dipijat dan diminta untuk menanggalkan pakaiannya lalu disetubuhi," kata Andi.
Hasil investigasi yang dilakukannya, menurut Andi, ada beberapa santriwati yang hamil akibat perbuatan pelaku, salah satunya yakni Sh (24) yang baru - baru ini telah melahirkan seorang anak. Namun, Sh saat itu "dipaksa" menikah dengan pacarnya, yang juga santri di pesantren itu. Belakangan ini kami menduga surat nikah itu palsu," ujarnya.
Andi mengungkapkan, pihaknya mengalami kesulitan membongkar kasus dugaan pencabulan ini. Hal itu dikarenakan sejumlah korban takut dan malu untuk melapor. Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Pangaribuan mengatakan, pihaknya telah menyelidiki kasus itu, laporan salah satu santriwati bulan lalu telah diterima dan sudah diagendakanpemanggilan pelaku untuk diperiksa.
createSummaryAndThumb("summary652545829649844140");
READ MORE - Belasan Santriwati Dicabuli
Posted in
Berita
0
komentar
Tali BH Inez Tagor Lepas Ketika Menari
Kejadian menggelikan menimpa artis Inez Tagor (38). Lagi asyik - asyiknya menari, tanpa ia sadari kalau tali BH nya terlepas. Sontak, kejadian ini disaksikan oleh beberapa orang temannya. Tapi tunggu dulu, kejadian heboh itu tidak dialami Inez baru - baru ini, melainkan saat ia masih sekolah beberapa tahun lalu.
"Waktu aku masih SMA pernah disuatu acara aku nari - nari heboh banget sambil loncat - loncat, tanpa sadar tali BH ku copot. Pas sudah selesai menari aku baru sadar kalau tali BH ku lepas. Waktu itu sempat dilihatin sama teman - teman, ketawa - ketawa jadinya," ujar Inez tertawa saat ditemui dalam acara Grand Opening Triumph Boutique di Plaza Indonesia, Jalan MT Thamrin, Jakarta Pusat
Pengalaman lucu wanita bernama lahir Tinezia Sri Cendani Tagor ini tentang pakaian dalam tak berhenti sampai disitu. Kali ini cerita berawal saat Inez meminta dibawakan oleh - oleh sebuah celana dalam dari Korea oleh pacar yang kini telah menjadi suaminya, Adi Prabudi.
"Waktu sebelum nikah aku pernah dibeliin daleman dari korea. Sebelumnya aku ditanya mau oleh - oleh apa, terus karena aku malu - malu kucing, nyebutin ukurannya jadi aku bilang terserah aja, eh akhirnya kegedean. Sampai sekarang enggak kepakai, udah lama banget, kira - kira tahun 1998," kata Inez.
Meski tidak pernah dipakainya, ibu tiga orang anak, yakni Adi Nugraha (11), serta putri kembar yang diberi nama Nabila dan Nadila (4) itu mengaku sering senyum - senyum sendiri tatkala mengingat pakaian dalam itu.
Menurut Inez, kejadian itu adalah bentuk kasih sayang yang lucu. "Cute aja", meski kebesaran sizenya," kata perempuan kelahiran asli Jakarta ini.
createSummaryAndThumb("summary1738700689980225529");
READ MORE - Tali BH Inez Tagor Lepas Ketika Menari
Posted in
Berita
0
komentar
Film Animasi Buatan Indonesia, Keren Abis!
Cuplikan film animasi besutan Lakon Animasi ini memang pantas mendapatkan dua buah acungan jempol. Pasalnya, film animasi pendek buatan anak negeri yang satu ini gak kalah bagus dari pesohornya yaitu beberapa distributor film - film animasi Hollywood seperti Paramount Picture dan FreamWorks Pictures. Film animasi yang kami bicarakan ini berjudul Pada Suatu Ketika, menceritakan tentang datangnya alien ke muka bumi Indonesia dan merubah bajaj - bajaj jadi robot, he2.. Ups, tunggu dulu.. Jangan membayangkan film ini seperti film - film made in Indonesia pada umumnya, karena film ini beda! Penasaran, silahkan lihat cuplikan gambar atau videonya dibawah ini, yang merupakan sebuah bukti bahwa sebenarnya INDONESIA BISA!
LIHAT FILMNYA DIBAWAH INI:
createSummaryAndThumb("summary2803791629789810757");
READ MORE - Film Animasi Buatan Indonesia, Keren Abis!
Posted in
Berita
0
komentar
Diikat wanita teman baruku
Suatu hari Sabtu aku pergi bersama teman-teman ke sebuah disco di daerah kota. Teman-temanku sudah mempunyai pasangannya masing-masing, hanya aku saja yang sendiri. Tempat itu terasa penuh, sesak dan bising karena suara musik yang keras. Kami duduk di sebuah meja di pojok ruangan dan memesan minuman. Karena aku tak kuat minuman alkohol, jadi kupesan coca-cola. Teman-temanku ramai-ramai turun dan berdansa, tinggallah aku sendiri di meja itu.
Di kegelapan ruangan disco itu, kulihat sesosok wanita tinggi semampai, cantik dan langsing. Beberapa kali aku melihatnya sambil berharap ada balasan pandangan darinya. Tanpa menunggu lebih lama agi, kuhampirinya dan kusapa.
"Hallo, apa kabar, sendirian aja ya?"
"Ya. Lagi liat-liat dan mau having fun" jelasnya sambil tersenyum.
"Kamu sama siapa kesini?" tanyanya.
"Sama teman-teman. Kenalkan aku.." sapaku sambil menyebut nama.
"Aku Mei Mei" katanya.
Kuajak dia duduk di mejaku lalu memesan minuman. Kulihat wajahnya yang putih bersih, kulit yang halus dan cantik. Dia seorang wanita keturunan Tionghoa. Dia memakai baju dan celana kulit hitam mengkilat dan ketat. Kamipun lalu ngobrol-ngobrol dan ketawa-tawa seolah-olah kami sudah kenal lama. Impresi pertamaku mengatakan dia orang yang baik dan mudah akrab namun cukup agresif. Sesekali kami turun dan berdansa. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Mei Mei berkata padaku.
"Aku mau pulang, sudah bosan. Aku mau melakukan sesuatu di rumah, tapi aku perlu teman untuk itu. Kamu mau ikut atau tetap disini saja?".
Tanpa pikir panjang kujawab, "Aku ikut denganmu."
Malam itu kami pun lalu mencari taksi dan dia mengatakan ke supir taksi.
"Pak, ke apartemant ABC di Peconongan".
Taksipun lalu berjalan mengarah ke Peconongan. Di dalam taksi aku coba mendekati dan merayunya. Kupegang tangannya dan diapun tak menolakknya. Terasa kulit tangan yang halus. Merasa mendapat angin, aku melanjutkan rayuanku dengan mengecup pipinya. Dia tak menolaknya dan malah mencium balik pipiku. Maunya aku taksi ini berputar-putar biar perjalanannya lebih lama sehingga aku bisa menikmati momen ini.
Tak lama kemudian taksipun sampai di aperteman itu. Kubayar taksi dan dia mengajakku untuk mampir di apartemannya. Kami lalu naik ke lantai 10. Dibukanya pintu utama dan kulihat ruangan apartemannya yang bersih dan rapi.
"Apik sekali ya kamu. Tinggal sama siapa kamu disini?"
Di jawabnya, "Sendirian. Orang tuaku yang beli aparteman ini tapi mereka tidak tinggal disini."
Lampu ruangan yang baru saja dinyalakannya kemudian di redupkan sehingga terangnya seperti api lilin.
"Kalau mau minum, ambil sendiri saja ya. Lemari esnya di sebelah situ dan ada beberapa makanan kecil di dekat kulkas," katanya sambil berjalan menuju kamarnya.
Dia tinggal di 1-bedroom apartemen. Barang-barangnya kulihat tersusun rapi dan apik. Di ruang tengah (tamu) ada TV dan sofa. Diantara sofa dan TV ada karpet tebal dan lembut berwarna putih. Kulihat Mei Mei berjalan keluar kamarnya sambil membawa sebuah tas. Kamipun lalu duduk disofa sambil nonton TV. Dia lalu menawarkan padaku untuk menonton film VCD. Akupun setuju dan tidak perduli apa filmya karena yang ada dibenakku mau "USAHA". Sambil dia mencari film yang dimaksud, kutanya.
"Maaf, apakah kamu sudah menikah?"
Dijawabnya, "Nikah? Pacar aja aku nggak punya".
Kulanjutkan, "Nggak mungkin, cewek secantik kamu nggak punya pacar? Mungkin kamu terlalu milih kali".
Mei Mei lalu berkata, "Aku lagi nggak mau mikirin soal pacar dan nggak usah nanya-nanya soal gituan ya. Sekarang aku lagi mau having fun"
Dahiku berkerut memikirkan apa kiranya yang dimaksud dengan "having fun". Didapatkannya VCD yang dimaksud dan film pun mulai ditayangkan dan betapa herannya aku melihat film tersebut. Film yang disetel Mei Mei adalah tentang Bondage dan Disiplin. Diapun lalu bercerita tentang fantasi yang ia miliki dan betapa senangnya ia kalau bisa melakukan hal-hal seperti yang ada di film tersebut. Di jelaskan padaku bahwa dia ingin dapat mengikat orang lawan jenisnya. Dia lalu bertanya padaku.
"Mau saya ikat kamu seperti di film itu?"
Aku menggelengkan kepala menandakan ketidaksetujuanku. Dia lalu beranjak ke arah pintu dan mengunci serta melepaskan kuncinya.
"Nah sekarang kamu nggak bisa pergi. Kamu sekarang aku culik dan akan kujadikan budakku. Kalau kamu melawan, aku akan berteriak meminta tolong biar orang-orang berpikir seolah-olah kamu mau memperkosa aku. Apa kamu punya pilihan? Sebaiknya kamu nurut aja" katanya sambil mengejek namun terlihat paras muka yang memohon.
Kutanya, "Buat apa pakai di ikat-ikat segala? Lebih enakkan kalau bebas dan kita bisa meneruskan seperti yang di taksi tadi"
Dijawabnya, "Aku mau nerusin yang tadi tapi dengan syarat kamu harus di ikat. Aku senang dan bergairah sekali kalau lawan mainku nggak berdaya lho!"
Akhirnya aku setuju dan menyerahkan diriku padanya.
"Ok deh kalau gitu maunya kamu tapi hati-hati ya," pintaku padanya.
Tak kusangka cewek manis dan cantik ini punya suatu keanehan. Mei Mei lalu memintaku untuk berdiri dan melepaskan pakaianku hingga celana dalam. Aku telanjang bulat dibuatnya. Dikeluarkannya beberapa tali dari tas lalu diletakkan disampingku. Film bondage masih terus diputarnya. Ia lalu meminta kedua tanganku diletakkan dibelakang dan diikatnya dengan seutas tali yang cukup panjang. Beberapa putaran tali dililitkan di tanganku dan kumerasakan ikatan yang kuat. Kedua ujung tali kemudian di ikat mati olehnya sambil terlebih dahulu ditariknya keras-keras. Ia pun lalu mengecek beberapa lilitan tali di tanganku memastikan tidak ada yang longgar.
Setelah kedua tanganku terikat dibelakang, ia lalu mengikat kedua siku lenganku erat-erat. Kemudian ia ikat kedua kaki dan lututku. Aku masih berdiri sambil beberapa kali berusaha menyeimbangi diri agar tidak jatuh. Setelah semuanya terikat, ia lalu menjatuhkan badanku ke lantai. Beberapa tali masih belum terpakai dan tergelatak dilantai. Sesekali ia mengecek tali-tali ikatan itu dan setelah itu kulihat senyum kepuasan diwajahnya.
"Kamu seksi sekali deh telanjang dalam keadaan terikat. Kamu harus kuapakan? Ada ide nggak?" tanyanya sambil memandangku.
Aku menggelengkan kepalaku sambil menjawab, "Nggak ada. Terserah kamu aja deh mau ngapain aku"
Lalu disambungnya, "Ok deh kalau begitu nanti kupikirkan"
Tanpa kusadari, kurasakan kegairahan yang teramat sangat dalam keadaan terikat. Penisku berdiri tegak dan keras bagaikan sebuah tiang bendera yang besar. Tak kupungkiri aku menyukai keadaan ini. Mungkin kegairahan ini timbul karena diikat seorang wanita cantik. Dalam keadaan tak berdaya, Mei Mei lalu memintaku untuk menjilati kakinya. Permintaannya kurasakan sebagai suatu hinaan dan aku benci serta tak mau melakukannya. Belum sempat lama aku berpikir untuk menjawabnya, kedua kakinya diletakkan di muka dan mulutku.
"Ayo jilat, bersihkan kakiku!" bentaknya.
Kulakukan perintahnya dan terdengar desihan nikmat darinya. Kujilat dan kuisap jempol dan jari-jari kakinya beberapa kali. Mulutku terasa kering karena jilatan-jilatan itu. Selang beberapa waktu kemudian, ia memintaku untuk menghentikan dan Mei Mei lalu beranjak dari duduknya dan menibaniku dengan posisi kemaluannya berada diatas kepalaku.
"Sekarang kamu jilat mekiku" pintanya.
Direndahkan mekinya sehingga memudahkanku untuk melakakukannya. Desihan nikmat yang cukup keras terdengar dari mulutnya.
"Aduh enak sekali, ayo jangan berhenti. Terus, terus, terus.."
Ia lalu menundukkan kepalanya dan kemudian kurasakan penisku terisap. Kami melakukan posisi 69. Dilakukannya berualang-ulang hingga kurasakan nikmat yang teramat sangat. Kuperingatkan padanya bahwa sebentar lagi aku akan ereksi, namun Mee Mei tidak perduli malah mempercepat hisapan-hisapan itu sambil mempermainkan biji penisku dengan tangannya.
"Awas, awas aku mau keluar.."
Dan semprotan spermaku keluar dengan kencangnya ke mulut Mei Mei. Cukup banyak sperma yang keluarkan dan mungkin sebagian tertelah olehnya. Walau aku sudah berereksi, ia tidak menghentikan hisapan-hisapan itu dan terus malakukannya. Terasa kegelian tapi nikmat sekali. Tidak lama kemudian, ia pun menyudahi hisapan itu dan berjalan ke kamar mandi membersihkan mulutnya yang dipenuhi oleh spermaku. Ia lalu kembali dan berkata.
"Bagaimana rasanya di sepong dalam keadaan terikat? Nah sekarang istirahat dulu"
Ia pun membiarkan diriku terikat di lantai. Ia lalu mengganti film bondage dengan acara lainnya. Sambil menonton TV, Mei Mei memainkan kembali kedua kakinya pada badan dan kepalaku sambil sekali-kali menendangku, tapi tidak keras.
Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 1 pagi dan badanku terasa capai dan lemas. Kulihat ekspresi yang sama pada Mei Mei. Kuminta padanya untuk melepaskan ikatan-ikatan ini karena aku mau pulang. Permintaanku itu disambutnya dengan menyumpal mulutku dengan lakban serta mengikatkan seutas tali di kakiku dan kemudian menariknya ke atas serta menyatukannya dengan tanganku. Tidak ada jarak yang tersisa, kaki dan tanganku bersatu dibelakang badan dan kemudian ia ikatan kedua ujung tali tersebut. Setelah selesai mengikatkan tali itu, ia lalu menarik tubuhku yang terikat ke dalam kamarnya dan kemudian mengangkatku ke tempat tidurnya. Lalu ia berbaring disebelahku dan berkata.
"Kamu nggak boleh pulang malam ini. Kamu temani aku disini. Aku capai dan mau tidur. Selamat tidur. Mimpi indah ya. Jangan coba-coba melepaskan ikatan tali-tali itu"
Mei Mei lalu mematikan lampu kamarnya dan kemudian ia pun hilang ditelan kegelapan malam. Aku pasrah dan menerima keadaan ini dan berusaha untuk dapat tidur sambil berusaha untuk tidak menghiraukan sakitnya ikata tali-tali di tangan dan kakiku.
Dalam tidurku terasa sesuatu hisapan di penisku. Enak dan nikmat hisapan itu. Aku berpikir mungkin aku sedang bermimpi. Aku tidak sadar bahwa aku masih dalam keadaan terikat. Kubuka kedua mataku dan kulihat Mei Mei sedang menghisap penisku yang sudah berdiri tegak dan keras. Aku sadar sedang tidak bermimpi. Ada sesuatu yang aneh lainnya yang kurasakan. Anusku terasa dimasuki oleh sesuatu, tidak besar namun geli rasanya. Akhirnya kusadari Mei Mei sedang memasukkan jarinya yang tertutup sarung tangan plastik ke lubang pantatku. Tidak mudah ia melakukannya karena posisi ikatan yang menyatukan kaki dan tanganku sehingga menyebabkan lubang anusku tidak mudah untuk digapai.
Tak lama kemudian ereksiku pun terjadi dan spermaku berhamburan kembali di mulutnya. Ia pun kemudian berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya. Kemudian ia kembali menghampiriku dan melepaskan lakban yang menyumpal mulutku dari tadi malam.
"Selamat pagi, gimana kabarnya. Belum pernahkan dibangunkan dengan alarm dengan sepongan" Mei Mei menyapaku.
Aku hanya tersenyum. Lalu aku mengatakan, "Lepaskan dong tali-tali ini. Sakit rasanya terikat semalaman. Aku mau mandi dan pulang".
Ia lalu berkata, "Ini kan hari minggu buat apa cepat-cepat pulang. Lagipula aku masih pengin melihat kamu seperti ini. Kalau rasanya sakit ya lumrah dong. Oh iya, aku punya kejutan lho buat kamu. Tadi aku minta temanku, Florence, kesini. Aku bilang ada sesuatu yang mungkin menarik".
Kujawab, "Gila ya apa kamu. Masa aku harus dipamerkan dan dimainkan oleh teman-temanmu dalam keadaan seperti ini. Aku nggak mau. Ayo buka tali-talinya!!" kataku dengan suara yang keras.
"Nggak mau. Buka aja sendiri" sahutnya.
Mei Mei lalu menyumpal mulutku kembali dan keluar kamar. Aku meronta-ronta sekuat tenagaku mencoba membuka ikatan tali-tali itu. Berkeringat seluruh badanku. Tidak lama kemudian ia kembali membawa sebuah lilin yang menyala. Ia lalu duduk disampingku dan meneteskan air lilin yang panas ke badanku.
"Ugh, ugh, ugh.." aku berteriak menahan panasnya tetesan lilin itu.
Aku bergeliat-geliat mencoba menjauhinya namun ia terus mendekatiku dan mengulangi meneteskan lilin itu. Akhirnya aku pasrah dan hanya bisa berteriak dalam keadaan tersumpal. Setelah puas melakukan permainan meneteskan lilin itu, Mei Mei lalu membuka sumpalan mulut dan ikatanku satu demi satu hingga aku terbebas.
"Aku bercanda kok bilang temanku mau datang kesini. Tapi nanti kalau kamu aku ikat lagi, boleh ya aku ajak temanku, cewek kok. Siapa tahu nanti akan lebih asyik dan bergairah. Ma kasih ya. Minggu depan kesini lagi ya tapi jangan malam. Kita mulainya dari Sabtu siang aja, kan jadi punya banyak waktu," sapanya sambil memperlihatkan beberapa foto diriku dalam keadaan terikat.
Belum sempat aku menjawab, Mei Mei lalu berkata sambil mengancam.
"Kalau kamu nggak mau ketemuin aku lagi, foto-foto ini nanti aku sebarkan lho! Jadi jangan coba-coba untuk menghindar. Aku juga sudah tahu nomor telpon dan alamat kantormu dari kartu nama yang ada di dompetmu".
Aku tidak bisa berkata apa-apa kecuali mengiyakan permintaannya. Akupun lalu mandi dan berpakaian. Tak lama kemudian aku pamit pulang tanpa banyak berkata apa-apa. Sebelum berpisah, Mei Mei kembali mengingatkanku dan tersenyum mengejekku.
"Minggu depan ya sayang, jangan lupa. Aku tunggu lho.."
Tak kusangka jam pada saat itu menunjukkan pukul 10 pagi. Hampir 24 jam aku terikat dan disiksa olehnya. Namun ikatan dan siksaan itu sangat kunikmati dan sangat menggairahkanku. Aku berkata dalam hatiku tanpa foto-foto itu atau diminta untuk datang kembali, aku pasti akan datang memintanya untuk mengikat dan menyiksaku lagi.
Tamat
createSummaryAndThumb("summary2845314552486511919");
READ MORE - Diikat wanita teman baruku
Posted in
Bondage
0
komentar
Budak nafsu ABG
Aku sedang membanting pantatku di jok belakang taxi, ketika dering HP-ku memanggil. Kuperhatikan jelas sekali bahwa ini nomor yang sama dari dua kali panggilan tadi. Tapi karena aku merasa tidak mengenalnya, aku sama sekali tidak menanggapinya.
"Kenapa tidak diangkat, Bang..?" tanya sopir taxi yang sekilas melihatku lewat spionnya.
"Buat apa. Paling-paling wartawan 'bodrek'. Menawarkan berita kemenanganku ini di koran kelas 'teri'-nya. Bosen aku berurusan dengan mereka..!" sahutku sambil kuperhatikan sekali lagi secara kilas dua medali emas dan piala juara favorit kejuaraan binaraga kelas junior ini.
Taxi meluncur kencang membawaku pulang ke rumah kontrakanku di daerah Radio Dalam. Taxi masih melenggang di atas aspalan Sudirman ketika nomor HP itu muncul lagi di layar HP-ku. Berdering dan berdering minta diangkat. Terpaksa kali ini aku menerimanya dengan malas.
"Hai Andre, sombong bener sih, nggak mau terima telponku. Kenapa..?"
"Sori Mbak. Ini siapa, dan ada apa..? Aku merasa nggak kenal anda."
"Benar. Kita belum pernah saling kenal kok. Tapi aku selalu memantau kemajuanmu dalam bertanding binaraga. Pokoknya aku selalu mengikutimu kemana kamu berlaga memamerkan tubuhmu yang berotot kekar tapi indah dan seksi sekali itu. Aku senang sekali. Banyak teman-temanku yang mengidolakan dirimu lho Mas. Kupikir masa depanmu pasti cerah sekali di dunia binaraga. Gimana nih, kami mau kenalan lebih dekat lagi, juga foto-foto bersama atlet idola kami. Bagaimana Mas..?"
Aku sejenak berpikir. Siapa sih mereka? Apa maksudnya? Kalau aku tolak, aku merasa merendahkan atau menyepelekan apa yang namanya fans atau penggemar. Fans atau penggemar, apalagi wartawan itu adalah jalur yang tidak boleh kulawan. Mereka harus kurangkul dan akrabi. Begitu nasehat teman-teman seniorku di dunia olahraga yang banyak penggemarnya.
"Baiklah. Dimana ini kalian semua..?" tanyaku setelah menghelakan nafasku.
Sebuah daerah pemukiman elite disebutkan suara cewek itu. Permata Hijau. Aku segera minta sama sopir taxi segera meluncur ke alamat yang dituju. Kuperhatikan jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.45 tepat. Waktuku untuk istirahat. Tapi demi fans, aku rela membagi waktuku dengan mereka.
Rumah mewah itu memang terlihat sepi, gelap, dengan halamanya yang terlihat teduh. Berlantai tiga dengan gaya arsitektur spanyol yang unik. Bergegas aku segera turun dan kuperhatikan sejenak taxi telah menghilang di tikungan jalan. Kembali aku perhatikan alamat rumah yang kutuju itu. Aku segera menyelinap masuk ke dalam halamannya setelah membuka sedikit pintu gerbangnya yang dari besi dicat hitam. Hujan mendadak turun dengan rintik-rintik. Berburu aku lari kecil menuju teras yang tinggi, karena aku mesti menaiki anak tangganya.
Aku dengan tidak sabaran menekan-nekan bel pintunya yang yang tampak sekali aneh bagiku, sebab tombol bel itu berupa puting susu dari patung dada wanita. Tidak berapa lama, pintu model tarung kuku itu terbuka. Aku seketika berdecak kagum dan 'ngiler' berat melihat figur penggemarku ternyata anak baru tumbuh yang bertubuh seksi.
"Mas Andre, ya? Ayo Mas, dua temanku sudah tak sabar nungguin Mas. Biar kubawakan pialanya.. yuk..!" ujar gadis berusia sekitar 17 tahun itu ramah sekali menyambar piala dan tas olahragaku.
Aku menyibakkan sebentar rambut gondrongku yang basah sedikit ini, sambil sejenak kuperhatikan gadis itu menutup dan mengunci kembali pintunya.
"Ng.., maaf, belum kenalan..," gumamku perlahan membuat gadis berambut pendek cepak ala tentara cowok itu menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya ke arahku sambil mengumbar senyun manisnya.
"Oh ya, aku Tami..," sahutnya menjabat tanganku erat-erat.
Hm, halus dan empuk sekali jemari ini, seperti tangan bayi.
Tami yang berkulit kuning langsat itu melirik ke sebelah, di mana dari balik korden muncul dua temannya. Semua seusia dirinya.
"Ayo pada kenalan..!" sambung Tami.
Malam ini Tami memakai kaos singlet hitam ketat dan celana pendek kembang-kembang ketat pula, sehingga aku dapat dengan jelas melihat sepasang pahanya yang mulus halus. Bahkan aku dapat melihat, bahwa Tami tidak memakai BH. Jelas sekali itu terlihat pada dua bulatan kecil yang menonjol di kedua ujung dadanya yang kira-kira berukuran 32.
"Lina..," ujar gadis kecil lencir berambut panjang sepinggangnya itu menjabat tanganku dengan lembut sekali.
Gadis ini berkulit kuning bersih dengan dadanya yang kecil tipis. Dia memakai kaos singlet putih ketat dan celana jeans yang dipotong pendek berumbai-rumbai. Lagi-lagi Lina, gadis cantik beralis tebal itu sama seperti Tami. Tidak memakai BH. Begitupun Dian, gadis ketiga yang bertubuh kekar seperti laki-laki itu dan berambut pendek sebatas bahunya yang kokoh. Kulitnya kuning langsat dengan kaos ketat kuning dan celana pendek hitam ketat pula. Hanya saja, dada Dian tampak paling besar dan kencang sekali. Lebih besar daripada Tami. Cetakan kedua putingnya tampak menonjol ketat.
Aku dapat melihat pandangan mata mereka sangat tajam ke arah tubuhku. Aku pikir iru maklum, sebab idola mereka kini sudah hadir di depan mata mereka.
"Dimana mau foto-foto bersamanya..?" tanyaku yang digelandang masuk ke ruang tengah.
"Sabar dulu dong Mas, kita kan perlu ngobrol-ngobrol. Kenalan lebih dalam, duduk bareng.. gitu. Santai saja dulu lah.. ya..?" sahut Dian menggaet lengan kananku dan mengusap-usap dadaku setelah ritsluting jaket trainingku diturunkan sebatas perutku.
"Ouh, kekar sekali. Berotot, dan penuh daging yang hebat. Hm..," sambungnya sedikit bergumam sembari menggerayangi putingku dan seluruh dadaku.
Aku jadi geli dan hendak menampik perlakuannya. Tapi kubatalkan dan membiarkan tangan-tangan ketiga gadis ABG itu menggerayangi dadaku setelah mereka berhasil melepas jaketku.
Kuakui, aku sendiri juga menikmati perlakakuan istimewa mereka ini. Kini aku dibawa ke sebuah kamar yang luas dengan dinding yang penuh foto-foto hasil klipingan mereka tentang aku. Aku kagum. Sejenak mereka membiarkanku terkagum dan menikmati karya mereka di tembok itu.
"Bagaimana..?" tanya Lina mendekati dan merangkul lengan kiriku.
Lagi-lagi jemari tangan kirinya menggerayangi puting dan dadaku. Kudengar nafas Lina sudah megap-megap. Lalu Dian menyusul dan memelukku dari belakang, menggerayangi dadaku dan menciumi punggungku. Kini aku benar-benar geli dibuatnya.
"Sudahlah, lebih baik jangan seperti ini caranya. Katanya mau foto-foto..?" kataku mencoba melepaskan diri dari serbuan bibir dan jemari mereka.
"Iya, betul sekali. Lihat kemari Mas Andre..!" sahut Tami yang berdiri di belakangku.
Aku segera membalikkan tubuhku dan seketika aku terkejut. Mataku melotot tidak percaya dengan penuh ketidaktahuan dan ngerti semua ini.
"Ada apa ini, apa-apa ini ini..? Kalian mau merampokku..?" tanyaku protes melihat Tami sudah menodongkan pistol otomatis yang dilengkapi dengan peredam suara itu ke arah kepalaku.
"Ya. Merampok dirimu. Jiwa dan ragamu. Semuanya. Ini pistol beneran. Dan kami tidak main-main..!" sahut Tami dengan wajah yang kini jadi beringas dan ganas.
Begitupun Lina dan Dian. Sebuah letupan menyalak lembut dan menghancurkan vas bunga di pojok sana. Aku terhenyak kaget. Mereka berdua memegangi lengananku dengan kuat sekali. Aku hampir tidak percaya dengan tenaga mereka.
"Tidak ada foto. Tapi, di ruangan ini, kami memasang beberapa kamera video yang kami setel secara otomatis. Setiap ruangan ada kamera dan kamera. Semua berjalan otomatis sesuai programnya. Copot celananya, Lin..!" ujar Tami membentak.
Aku hendak berontak, tapi dengan kuat Dian memelintir lenganku.
"Ahkk..!"
"Jangan macem-macem. Menurut adalah kunci selamatmu. Ngerti..!" bentak Dian tersenyum sinis.
Celana trainingku kini lepas, berikut sepatuku dan kaos kakinya. Lina sangat cepat melakukannya. Kini aku hanya memakai cawat hitam kesukaanku yang sangat ketat sekali dan mengkilap. Bahkan cawat ini tidak lebih seperti secarik kain lentur yang membungkus zakar dan pelirku saja. Sebab karetnya sangat tipis dan seperti tali.
"Kamu memang seksi dan kekar..," ucap Tami mendekati dan menggerayangi zakarku.
"Iya Tam. Sekarang aja ya, aku udah nggak sabar nih..!" sahut Dian mengelus-elus pantatku.
"Sama dong. Tapi siapa duluan..?" sahut Lina mengambil sebotol minyak tubuh untuk atlet binaraga.
Kulihat mereknya yang diambil Lina yang paling mahal. Tampaknya mereka tahu barang yang berkualitas.
"Diam dan diam, oke..?" kata Lina menuangi minyak itu ke tangannya.
Begitupun Dian dan Tami. Segera saja jemari-jemari tangan mereka mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak. Bergantian mereka meremas-remas batang zakarku dan buah pelirku yang masih memakai cawat ini dengan penuh nafsu. Aku kini sadar, mereka fans yang maniak seks berat. Walau masih ABG. Dengan buas, Tami merengut cawatku dengan pisau lipatnya, yang segera disambut tawa ngakak temannya. Zakarku memang sudah setengah berdiri karena dorongan dan rangsangan dari stimulasi perbuatan mereka. Bagaimanapun juga, walau dalam situasi yang tertekan, aku tetap normal. Aku tetap terangsang atas perlakuan mereka.
"Ouh, sangat besar dan panjang. Gede sekali Lin..," ucap Dian kagum dan senang sembari menimang-nimnag zakarku.
Sedangkan Tami meremas-remas buah pelirku dengan gemas sekali, sehingga aku langsung melengking sakit.
"Duh, rambut kemaluannya dicukur indah. Apik ya..!" sahut Dian mengusap potongan bentuk rambut kemaluanku yang memang kurawat dengan mencukur rapi.
"Auuhk.., jangan. Jangan.., sakit..!" ucapku yang malah bikin mereka tertawa senang.
Lina sendiri menciumi daging zakarku dan menjilat-jilat buas pelirku. Aku tetap berdiri dengan kedua kakiku agak terbuka.
Mereka dengan buasnya menjilati dan menciumi zakar dan buah pelirku serta pantatku.
"Ouh.. jangan.. aauhk.. ouhhk.. aahkk..!" teriak-teriak mulutku terangsang hebat.
Hal itu membuat Tami jadi ganas dalam mengocok-ngocok batang zakarku. Sedangkan Lina gantian meremas-remas buah pelirku. Sementara Dian menghisap putingku dan memelintirnya, sehingga putingku jadi keras dan kencang. Kedua tanganku kini berpegangan pada tubuh mereka, karena dorongan birahiku yang mendadak itu. Aku kian menjerit-jerit kecil dan nikmat. Teriakan mereka yang diselingi tawa senang kian menambah garang perlakuan mereka atas tubuh telanjangku.
Bergantian mereka mngocok-ngocok zakarku hingga kian mengeras dan memanjang hebat. Bahkan mereka dengan buasnya bergantian menyedot-nyedot zakarku dengan memasukan ke dalam mulut mereka, sampai-sampai mereka terbatuk-batuk karena zakarku menusuk kerongkongan mereka.
"Nikmat sekali zakarnya, hmm.., coba diukur Dian. Berapa panjang dan besarnya, aku kok yakin, ini sangat panjang..!" ujar Tami sambil terus mengulum-ngulum dan menjilati zakarku.
Dian segera mengukur panjang dan besarnya zakarku.
"Gila, panjangnya 23 sentimeter, dan garis lingkarnya.. hmm.., 18 senti. Apa-apaan ini. Kita pasti terpuaskan. Dia pasti hebat dan kuat..!" ujar Dian kagum sambil mengikat pangkal batang zakarku dengan tali sepatu secara kuat.
Begitupun pangkal buah pelirku diikat tali sepatu sendiri. Sementara Lina gantian kini yang mengocok-ngocok zakarku sambil mengulum-ngulumnya. Karuan saja, zakarku jadi tambah keras dan merah panas membengkak hebat. Otot-ototnya mengencang ganas. Aku kian menjerit-jerit tidak kuat dan tidak kuasa lagi menahan spermaku yang hendak muncrat ini.
Mendengar itu, Lina mencopot lagi tali sepatuku di batang zakarku dan pelirku. Cepat-cepat mereka membuka mulutnya lebar-lebar di depan moncong zakarku sambil terus mengocok-ngocok paling ganas dan kuat.
"Creet.. croot.. creet.. srreet.. srroott.. creet..!" menyembur spermaku yang mereka bagi rata ke mulutnya masing-masing.
Bergantian mereka menjilati sisa-sisa spermaku sambil mengurut-ngurut batang zakarku agar sisa yang masih di dalam batang zakarku keluar semua.
"Hmm.. nikmat sekali. Enak..!" ucap Diam senang.
"Iya, spermanya ternyata banyak sekali.. kental..!" sahut Lina.
"Ayo, ikat dia di ruang penyiksaan. Cepat..!" perintah Tami berdiri, diikuti Lina dan Dian.
Sedangkan aku masih lemas. Rasa-rasanya mau hancur badanku. Aku nurut saja perintah mereka. Memasuki ruang penyiksaan.
Apa pula itu? Mereka dengan cepat memasang gelang besi di kedua tangan dan kakiku. Rantai besi ditarik ke atas. Kini tubuhku merentang keras membentuk huruf X. Posisi badanku dibikin sejajar dengan lantai yang kira-kira setinggi satu meteran itu. Lampu menyorot kuat ke arahku. Keringatku menetes-netes deras.
"Siapa kalian ini sebenarnya..?" tanyaku memberanikan diri.
"Diam..! Tak ada pertanyaan. Dan tak boleh bertanya. Pokoknya menurut. Kamu kini budak kami. Ngerti..!" bentak Tami mencambuk dadaku dan punggungku dengan cambuk yang berupa lima utas kulit yang ujungnya terdapat bola berduri. Sakitnya luar biasa.
Mendadak Dian membuka lantai di bawahku. Aku kaget, rupanya di bawah sana ada liang seukuran kira-kira lebar 50 senti dan panjang dua meteran. Dan di lubang sedalam kira-kira satu meteran itu terdapat tumpukan batu bara yang membara panas sekali! Pantas saja, tadi kakiku sempat merasakan panasnya lantai ubin ini. Walau kini tubuhku setinggi kurang dari dua meter dari bara, tapi aku masih kuat merasakan betapa panasnya batu bara itu uapnya membakar kulit tubuhku bagian belakang.
"Cambuk terus..! Sirami dengan minyak dan jus tomat..!" perinta Tami mencambuki kakiku.
Sedangkan Lina mencambuki dadaku. Dian mencambuki punggungku. Panas dan pedih, semua bercampur jadi satu. Bersamaan mereka juga mencambuki zakar dan pelirku yang masih setengah tegang ereksinya. Batu bara yang tertimpa minyak dan jus tomat itu mengeluarkan asap panas yang segera membakar kulitku. Entah, di menit keberapa aku bertahan. Yang jelas tidak lama kemudian aku pingsan.
Saat terbangun, ternyata aku sudah terbaring di atas ranjang luas dan empuk bersprei putih kain satin. Tapi kondisiku tidak jauh beda dengan disiksa tadi. Kedua tanganku dirantai di kedua ujung ranjang bawah, sedangkan badanku melipat ke atas karena kedua kakiku ditarik dan rantainya diikatkan di kedua ujung ranjang atas kepalaku, sehingga dalam posisi seperti udang ini, aku dapat melihat anusku sendiri.
Sebuah bantal mengganjal punggungku. Lampu menyorotku. Tiba-tiba Lina sudah mengakangi wajahku. Dan dia telanjang bulat. Kulihat vaginanya yang mengarah ke wajahku itu bersih dari rambut kemaluan. Rupanya telah dipangkas bersih.
"Jilati, nikmati lezatnya kelentitku dan vaginaku ini. Cepat..!" teriak Lina menampar wajahku dua kali sambil kemudian membuka bibir vaginanya dan menjejalkannya ke mulutku. Terpaksa, aku mulai menjilati vagina dan seluruh bagian di dalamnya sambil menghisap-hisapnya.
Lina mulai menggerinjal-gerinjal geli dan nikmat sambil meremas-remas sendiri duah dadanya dan puting-puting susunya yang kecil itu. Kulihat selintas datang Dian dan Tami yang juga telanjang bulat. Sejenak mereka berdua saling berpelukan dan berciuman. Mereka ternyata lesbian..! Lina segera beranjak berdiri.
"Lakukan dulu Lin, kami sedang mood nih..!" ujar Tami mencimui vagina Dian yang berbaring di sebelahku sambil menggerinjal-gerinjal geli.
Kedua tangan Dian meremas-remas sendiri buah dadanya. Lina segera saja mengambil boneka zakar yang besar dan lentur. Segera saja Lina menuangi anusku dengan madu, serta merta gadis itu menjilati duburku. Aku jadi geli.
Kini jemari Lina mulai mengocok-ngocok zakarku, setelah sebelumnya mengikat pangkal buah pelirku secara kuat.
"Ouh.. aduh.., aahhk..," teriakku mengerang sakit dan nikmat.
Lina dengan cepat segera menusukkan boneka zakar plastik itu ke dalam lobang anusku. Karuan saja aku menjerit sakit. Tapi Lina tidak perduli. Zakar plastik itu sudah masuk dalam dan dengan gila, Lina menikam-nikamkan ke anusku. Aku menjerit-jerit sejadinya. Sementara tangan satunya Lina tetap mengocok-ngocok zakarku sampai ereksi kembali dengan kerasnya.
Tiba-tiba Tami mengakangi wajahku dan mengencingi wajahku.
"Diminum. Minum pipisku.. cepat..!" perintah Tami menanpar-nampar pantatku.
Terpaksa, kutelan pipis Tami yang pesing itu. Rasanya aku mau muntah. Lebih baik menjilati vaginanya, ketimbang meminum pipisnya. Tami tertawa ngakak sambil mengambil alih mengocok zakarku dengan buas.
"Gantian..!"ujar Dian menggantikan posisi Tami.
Pipis lagi. Aku kini kenyang dengan pipis mereka. Tubuhku basah oleh pipis mereka. Lina masih menusuk-nusuk duburku dengan zakar plastiknya. Pelan-pelan rantai dilepas, tapi Lina malah membenamkan zakar plastik itu dalam-dalam di anusku. Kakiku dibuat mengangkang. Dengan buas, satu persatu memperkosaku.
"Auhk.. aahk.. ouhkk.. yeaah.. ouh..!" teriak-teriak mulut mereka menggenjot di atas tubuhnya setelah memasukkan zakarku ke dalam vaginanya.
"Ouh.. ouhk, tidak.. ahhk.. ahhk..!" menjeritku kesakitan karena sperma yang mestinya muncrat tertahan oleh tali ikatan itu.
Cambuk kembali melecuti dadaku. Pokoknya tidak ada yang diam nganggur. Saat Tami menggagahiku, Lina mencambuk. Dian menetesi puting susuku dengan cairan lilin merah besar. Atau menyirami lilin panas itu ke anusku. Saking tidak kuatnya aku, kini aku jatuh pingsan lagi.
Entah berapa lama aku pingsan. Saat terbangun, banyak spermaku yang tercecer di perutku. Tidak ada rantai. Tidak ada lilin. Bahkan mereka juga tidak ada di sekitarku. Kemana mereka? Perlahan aku beranjak berdiri, tertatih-tatih mencari pakaianku. Tubuhku penuh barut bekas cambuk dan lilin mengering. Luar biasa sakit dan pedihnya tersisa kurasakan.
Secarik kertas ditinggalkan mereka bertiga untukku. Kubaca dengan muak dan geram.
Trim atas waktumu. Tapi kami belum puas menikmatimu. Kami pasti datang lagi untuk kepuasan kami. Kami pergi karena ada mangsa baru yang lebih lemah tapi kuat seksnya. Kalau kamu tolak, kami edarkan videonya. Awas, kamu kini adalah 'anjing' seks kami. Trim. Sampai jumpa.
TAMAT
createSummaryAndThumb("summary2334605446678901085");
READ MORE - Budak nafsu ABG
Posted in
Bondage
0
komentar
First time bondage
Hari ini aku bete banget. Bagaimana tidak, di Ulang Tahun yang ke 23, ini tanpa teman tanpa pacar. Anak-anak kost lagi pulang kampung dan sudah 1 minggu ini pacarku telah menikah dengan wanita pilihan ortunya. Sebenarnya banyak cowok yang mendekati tapi aku masih trauma untuk menerima mereka.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Dengan enggan aku buka, ternyata Astrid dan Yuni datang mau meminjam catatan. Menurut kabar yang beredar di kampus mereka itu pasangan lesbian.
"Eh, kalau tidak salah kamu hari ini ultah kan.. selamat ya!", kata Yuni.
"Makasih Yun", jawabku malas.
"Kok cemberut sih, harusnya kan hepi" Tanya Astrid.
"Terus yayangmu mana nih?".
Akhirnya aku ceritakan semua yang membuat hatiku sedih.
"Wah, kasihan.. eh bagaimana kalo kamu ikut ke rumahku, kita bisa senang-senang di sana, benar tidak Yun?", ajak Astrid.
Tanpa pikir panjang aku ikut mereka. Baru kali ini aku ke rumah Astrid. Ternyata di rumah yang cukup mewah ini, Astrid tinggal berdua dengan Yuni. Orang tuanya berada di luar negeri. Kami lalu ngobrol dan saling becanda. Mereka ternyata asik buat becanda bahkan lebih gila. Mula-mula aku risih melihat mereka sering berciuman mesra di depanku, aku hanya bisa bengong aja melihat tingkah mereka. Ya, mereka benar-benar lesbi. Astrid kemudian mengajak main kartu dengan hukuman bagi yang kalah melepas seluruh pakaian satu persatu dan harus menuruti apa yang diminta pemenang. Di akhir permainan, Astridlah pemenangnya, ia masih mengenakan BH dan celana dalam sedang aku hanya tinggal celana dalam, bahkan Yuni sudah telanjang. Mula-mula aku malu, tapi mereka tenang-tenang saja. Diam-diam aku tertarik juga melihat tubuh mereka yang indah, walau tubuhkupun sebenarnya tidak kalah seksi.
"Nah aku yang menang, sekarang kalian harus siap dihukum. Yun, ambil peralatannya!", kata Asrid.
Yuni lalu mengambil tas dan beberapa gulung tali dari dalam lemari.
"Untuk apa tali itu?", tanyaku bingung.
"Kita akan diikat, kamu pernah belum?" kata Yuni.
Aku menggeleng.
"Kalo gitu ini akan jadi pengalaman pertamamu yang mengasikkan", lanjut Yuni.
"Sekarang bantu aku mengikat Yuni dulu", kata Astrid.
Kami lalu mengikat Yuni pada sebuah kursi. Astrid mengikat kedua tangan kebelakang juga mengikat tubuh Yuni ke sandaran kursi. Sedang aku mengikat kakinya pada masing-masing kaki kursi secara terpisah. Setelah itu Astrid membuka tas dan mengambil sebuah alat berbentuk bola kecil.
"Apa itu Trid?", tanyaku.
"Ini namanya ballgag gunanya untuk membungkam mulut", jelas Astrid.
"Coba kamu pasangkan ke mulut Yuni".
"Ya, ayo bungkam mulutku, tak usah ragu, yang erat sekalian", sahut Yuni ketika melihatku ragu.
Aku lalu memasangkan ke mulutnya dan mengekangnya dengan erat, hingga aku yakin Yuni tak dapat mengeluarkan suara lagi. Dalam keadaan telanjang dan terikat tak berdaya seperti itu, aku lihat Yuni tenang-tenang saja bahkan terlihat sangat menikmatinya.
"Sekarang giliranmu, mau pakai borgol atau tali?" Tanya Astrid.
" Terserah kamu, aku menurut saja."
Asrid mengambil beberapa gulung tali lagi lalu menyuruhku telungkup di kasur. Kemudian ia mengikat kedua tanganku ke belakang, lutut dan pergelangan kakiku juga diikat. Tidak juga itu, tanganku diikatkan lagi dengan kakiku hingga tertarik hampir menyentuh pergelangan kaki. Kata Astrid itu namanya hogtied.
"Gimana, sakit tidak?" Tanyanya.
Aku menggeleng walau sebenarnya sedikit sakit karena ikatan yang sangat erat. Tidak tahu mengapa aku merasakan sesuatu yang aneh dan menyenangkan dalam keadaan tak berdaya begini.
"Aku sumbat mulutmu ya." Kata Astrid sambil mengambil sebuah bandana.
Akupun diam saja ketika ia membungkam mulutku dengan bandana tersebut.
Selesai mengikatku, Astrid kembali ke Yuni, lalu ia menciumi tubuh Yuni, menjilati kemaluannya dan meremas-remas payudaranya yang montok. Yuni terlihat sangat terangsang dan menikmati permainan itu. Melihat mereka, tidak tahu mengapa aku ikut terangsang juga dan ingin diperlakukan sama seperti itu. Tubuhku menegang menahan gairah. Astrid yang mengetahui hal itu lalu menghampiriku sambil membawa alat suntik.
"Kamu tenang dulu, nanti ada permainan sendiri buatmu yang lebih mengasyikkan. mungkin sebaiknya kamu istirahat, simpan tenaga buat nanti."
Astrid menyuntikku dengan bius, aku sebenarnya tidak setuju tapi tidak berdaya menolaknya sehingga akhirnya aku tertidur.
Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ketika terbangun aku terkejut melihat ruang dipenuhi lilin. Juga tidak ada Yuni maupun Astrid. Sedangkan aku kini tidak terikat hogtied lagi tapi dalam posisi berdiri. Kedua tanganku terikat erat keatas, kedua kakiku diikat pada ujung-ujung sebuah tongkat besi hingga mengangkang posisinya. Lebih terkejut lagi ketika aku memperhatikan pakaianku yang aneh. BH yang kupakai pada bagian payudara berlubang hingga payudaraku kencang menyembul keluar juga celana dalamnya pada bagian kemaluan berlubang. Sedang tanganku memakai sarung tangan panjang kakiku telah memakai stocking. Semua pakaian terbuat dari kulit berwarna hitam. Karena bingung aku lalu mencoba memanggil Astrid dan Yuni.
Aku ingin berbicara tapi suaraku tidak bisa keluar terhalang bola di mulut. Ternyata mulutku telah di bungkam dengan ballgag yang tadi digunakan untuk membungkam Yuni. Aku panik dan berusaha melepaskan diri tapi sia-sia, ikatannya terlalu erat tidak mungkin untuk membebaskan diri. Akhirnya pintu kamar terbuka. Astrid masuk.
"Wah.. sudah bangun, lapar ya?", katanya sambil membawa makanan.
"Mmpphh.. mmpphh..", jawabku sambil mengangguk.
Astrid lalu melepaskan ballgag yang membungkam mulutku.
"Kamu mau apa lagi? Tolong lepaskan aku dong", kataku pada Astrid.
"Belum waktunya, aku belum bermain-main sama kamu. Sekarang kamu makan dulu!".
Astrid lalu menyuapi makanan hingga aku kenyang. Setelah itu dia mengambil ballgag dan berniat untuk memasangkan lagi di mulutku.
"Tidak.. Astrid, aku nggak mau memakai itu, tol.. mmpphh.. mmpphh..".
Astrid tidak peduli dengan penolakanku dan tanpa kesulitan berarti dia berhasil kembali membungkam mulutku.
"Yuni akan aku bawa kesini, sementara itu kamu lihat film dulu. Ok!".
Sambil berkata, dia memutar sebuah film yang berisi adegan wanita-wanita yang diikat dan disiksa. Kali ini aku benar-benar takut membayangkan rasa sakit ketika disiksa seperti itu.
Pintu kamar terbuka dan Astrid kembali masuk, kali ini bersama Yuni. Dengan pakaian hitam ketat, Astrid kelihatan sangat cantik, sedang Yuni telanjang hanya mengenakan sarung tangan, stocking dan topeng hitam seperti algojo dalam film itu. Kedua tangan Yuni diborgol dengan rantai panjang dan dilehernya juga terdapat rantai pengekang. Aku tidak tahu permainan apa lagi yang akan mereka mainkan. Yuni dibawa kearahku lalu leherku dipasang pengekang dan diikat dengan ujung satunya dari rantai yang mengekang leher Yuni. Kini leherku dan leher Yuni terikat rantai sepanjang 1 meter. Astrid mengambil cambuk dan mulai mencambuki punggung dan pantatku, sementara tangan Yuni bermain-main dengan payudaraku.
"Mmmpphh.. mmpphh.. mmpphh..".
Aku cuma bisa mengaduh, tidak tahu karena sakit dicambuk atau keenakan. Benar-benar suatu perasaan yang aneh tapi mengasyikkan. Aku merasakan suatu gairah yang baru pertama kali kurasakan. Selesai bermain-main dengan cambuk, Astrid menyuruh Yuni untuk duduk bersimpuh sehingga kepalanya tepat dihadapan kemaluanku.
Kemudian Astrid mengambil sebuah alat baru yang lebih aneh lagi dan memasangkan di mulut Yuni. Alat itu berbentuk penis, sehingga terlihat dari mulut Yuni keluar sebuah penis tersebut. Dan dengan mulutnya, penis itu dimasukkan ke kemaluanku. Oh.. sungguh nikmat sekali yang aku rasakan. Astrid lalu mengambil jepitan pakaian dan menjepitkan pada kedua payudaraku tepat di putingnya. Sakit rasanya. Kembali aku melotot memprotes tindakannya.
"Mmmpphh.. mmpphh..", erangku.
Tapi Astrid malah tersenyum senang melihatku kesakitan. Tidak puas dengan itu, Astrid mengambil lilin yang ada di lantai dan meneteskan lelehan lilin panas itu ke tubuhku dan Yuni sambil tertawa-tawa. Sementara Yuni terus saja memainkan penis itu di kemaluanku. Entah berapa lama mereka akan menyiksaku seperti ini. Walaupun lama kelamaan aku bisa juga menikmati siksaan tersebut. Hingga akhirnya tidak kuat menahan rasa sakit dan gairah yang semakin memuncak, aku pingsan tidak sadarkan diri.
Sewaktu sadar, aku berada di kamar dengan ditemani oleh mereka. Tangan dan kakiku juga telah bebas tidak terikat. Tubuhkupun telah mengenakan pakaian seperti ketika datang.
"Selamat pagi..", Yuni dan Astrid menyapaku sambil tersenyum.
Ternyata sudah pagi, jadi hampir semalaman aku telah diikat dan disiksa mereka.
"Bagaimana keadaanmu, sudah baikan?", Tanya Yuni.
Aku mengangguk, meski masih sedikit terasa lelah, ketika kuperhatikan tubuhku masih ada bekas cambukan juga di pergelangan kaki dan tangan masih terlihat guratan merah bekas ikatan tadi malam. Sebelum pulang, mereka menawarkan untuk melakukannya lagi di lain waktu.
"Bagaimana, kami tidak memaksa.. tapi jangan kamu sebarkan hal ini", Kata Astrid sambil menyerahkan kaset video.
Ternyata diam-diam mereka telah merekam semuanya. Sampai aku pulang, aku belum memberikan jawaban. Yang pasti kalau menginginkannya lagi aku yang akan menghubungi mereka.
Suatu malam tiba-tiba aku ingin melihat rekaman itu, melihat kejadian-kejadian ketika aku diikat dan disiksa, membuat gairahku muncul dan menginginkannya lagi. Kemudian aku ambil telepon.
"Astrid, Yuni.. kapan kalian akan mengikat dan 'menyiksa'ku lagi..??".
Tamat
createSummaryAndThumb("summary3026095279407009318");
READ MORE - First time bondage
Posted in
Bondage
0
komentar
First experience
Nama saya Indri. Badan saya termasuk cukup bagus untuk ukuran orang indo, tinggi badan hampir 170 dan berat mendekati angka 60 yang menjadi aset yang paling berharga adalah ukuran dada saya yang cukup lumayan untuk orang indo yaitu 36C, oleh karena itulah saya sering menggunakan baju yang full press body biar kelihatan tampil seksi.
Pada awalnya saya sebenarnya termasuk anak yang kurang mengerti tentang seks, semenjak saya berkenalan dengan jenny (bukan asli), saya mulai mengetahui banyak tentang seks dan nikmatnya seks.
Berawal dari dia meminjamkan buku tentang seks dan dia cerita tentangnya waktu "main" membuat saya penasaran ingin tahu tentang seks lebih mendalam, kemudian dia mengajarkan bermasturbasi dengan berbagai cara yang dapat memuaskan saya.
Seperti biasanya kalau malam minggu saya dan teman saya berkumpul di suatu tempat untuk ngobrol atau sekedar menghabiskan waktu saja, waktu berkumpul dengan teman-teman, saya memakai baju yang agak terbuka (baju yang mempunyai model seperti sarung yang cuma dililitkan saja), dipadukan dengan rok mini.
Setelah selesai berkumpul dengan teman-teman, biasanya saya ikut teman saya yang bernama AN untuk mengantarkanku pulang, tapi waktu itu dia tidak bisa datang karena sedang ada urusan, jadi saya pulang ikut mobil lain. Di mana semua penghuninya cowok semua 3 orang, ditambah saya menjadi 4 orang, tiga orang itu sebut saja Anton, Dodi dan Anwar (bukan sebenarnya) kebetulan teman saya naik kijang jadi tidak sempit.
Saya duduk di tengah bersama Anwar sedangkan, Anton nyetir mobil dan Dodi duduk di depan. Selama perjalanan Anwar tidak henti-hentinya memperhatikan paha dan dada saya sesekali Dodi membalikkan muka melihat paha saya, soalnya waktu itu saya duduk dengan kaki saling menyilang jadi rok yang saya kenakan agak tertarik dan sengaja saya biarkan. Lama-kelaman Anwar mulai duduk berdekatan dengan saya dan tangannya mulai merangkul tubuh saya. Saya masih mendiamkan saja, ternyata lama-kelaman tangannya sesekali menyentuh dada saya. Setelah saya perhatikan ternyata Anton bukannya mengantarkan saya pulang tapi malah ke tempat lain yang daerahnya agak asing bagi saya.
Anwar ternyata semakin berani untuk mulai meremas dada saya tapi langsung saja saya tepis tangannya. Tidak lama kemudian Anwar mengulangi lagi perbuatannya, malah Anwar mulai berani meremasnya dengan kedua tangannya. Saya mulai curiga bahwa saya mau diapa-apain tapi saya masih pura-pura tidak tahu. Tiba-tiba Anton meminggirkan mobilnya di jalan dan Anwar smakin berani meremas dada saya dan mulai menurunkan baju saya dengan paksa, dengan sekejap baju yang saya kenakan lepas dari badan saya sedangkan Anton turun dari mobil dan membuka pintu belakang. Saya disuruh turun dari mobil dengan hanya mengenakan BH saja.
Anton menekuk bangku tengah dan saya disuruh untuk masuk lewat pintu belakang mobil, bersamaan dengan itu Anton juga masuk ke dalam mobil bersama dengan Anwar. Saya langsung disuruh tidur. Anwar langsung menarik BH saya hingga sobek dan Anton membuka rok saya, lalu merobek celana dalam saya yang bermodel renda-renda, kini habislah pakaian yang saya kenakan. Anton langsung menjilati bibir vagina saya dan menusuk-nusuknya dengan jari membuat saya mendesah-desah tidak karuan. Anwar membuka celana panjangnya dan CD-nya kemudian langsung keluar "barang" Anwar yang cukup besar dan berurat (mungkin panjangnya sekitar 19 cm) langsung saja Anwar memasukkan penisnya ke mulut saya. Saking besarnya masuknya saja agak kesulitan, tidak bisa semuanya masuk ke dalam mulutku.
Kemudian Anton menghentikan hisapannya dan mulai membuka celana panjangnya sekaligus CD-nya. Keluarlah penis yang labih besar dari penis milik Anwar. Anton mulai merenggangkan kaki saya dan membuka vagina saya dengan tangannya untuk memasukkan penisnya, ternyata tidak bisa masuk ke vagina saya tapi Anton terus memaksanya untuk memasukkannya. Anwar ternyata sudah mau keluar dan dalam hitungan tiga keluarlah sperma Anwar ke mulut saya, banyaknya bukan main sampai saya terbatuk-batuk. Anton ternyata mulai bisa memasukkan penisnya ke vagina saya.
Ternyata (mungkin Anton kesal tidak bisa masuk masuk) dia dengan paksa langsung menindih badan saya dengan begitu masuklah penisnya ke vagina saya. Saya langsung berteriak kesakitan (waktu itu saya masih perawan) dan vagina saya langsung terasa berdenyut-denyut. Anton memaju-mundurkan penisnya, sedangkan Anwar keluar dari mobil dan kini Dodi yang masuk menggantikan Anwar. Dodi langsung membuka celananya, mulut saya sudah tidak bisa berhenti mendesah karena merasakan nikmat bercampur sakit, Dodi langsung menghisap payudara saya sambil tangannya mengusap-ngusap puting saya, itu membuat saya semakin tidak bisa berhenti mendesah.
Anton ternyata sudah mau keluar, dia bilang, "Ayo goyangin lagi", dan "Croot.., croot..", terasa semburan spermanya di dalam vagina saya. Anton langsung keluar dan Dodi menggantikan posisi Anton, siap untuk menyetubuhi saya. Ternyata Dodi mengambil tissu untuk membersihkan vagina saya. Waktu dilap ternyata terdapat darah. Dodi langsung tanya, "Elu masih perawan ya", saya diam saja. Setelah bersih, Dodi langsung memasukkan penisnya ke vaginaku. Penis Dodi tidak sebesar penis milik Anton dan tidak pula sebesar penis Anwar.
Dodi memasukan penisnya dengan tidak ada halangan lagi dan membuat saya mendesah lagi. Anwar ternyata sudah masuk ke mobil dan sudah mengambil posisi untuk memasukkan seluruh senjatanya hingga tenggelam ke duburku. Saya sempat berteriak jangan, tapi apa daya, Anwar dengan sekali dorongan keras memasukkan penisnya ke anus. Jadi kini sudah dua lubang yang dimasukin penis. Anton masuk lagi ke mobil dan mengambil posisi untuk memasukkan penisnya ke mulut saya.
sekarang saya sudah tidak bisa apa-apa lagi, soalnya semua lubang sudah penuh terisi oleh penis mereka bertiga. Tiba-tiba Anwar menarik keluar penisnya dari anus saya. Saya pikir dia sudah selesai, ternyata dia mulai memasukkan penisnya ke vagina saya walaupun vagina saya ada sudah ada penis Dodi. Dodi berhenti sejenak dan Anwar mulai mendorong masuk penisnya ke dalam vagina saya, ternyata vagina saya mulai melar dan sudah bisa menelan masuk penis Dodi dan Anwar, walaupun penis Anwar masih sebagian kecil saja yang masuk. Dodi menarik keluar sedikit penisnya dan Anwar mulai memasukkannya sedikit demi sedikit. Saya sudah tidak tahan, rasanya vagina saya sudah perih dan sakitnya bukan main.
Ternyata penis Dodi dan Anwar mulai masuk ke dalam vagina saya secara pelahan-lahan. Sayapun mulai berteriak kesakitan karena kedua penis mereka yang berada di dalam vagina saya. Ternyata Dodi dan Anwar masih asyik memainkan penisnya di dalam vagina saya. Ternyata Anwar sudah tidak sabar, dia menyuruh Dodi untuk mencabut penisnya dan memasukkannya ke anus saya. Dengan begitu kalau pantat saya, saya turunkan penis Dodi yang masuk ke anus. Sedangkan kalau pantat saya, saya naikkan penis Anwar yang masuk ke vagina saya. Tidak lama kemudian keduanya keluar dalam waktu yang hampir bersamaan, keduanya terjatuh di samping saya.
Saya berusaha untuk bangun dan membersihkan vagina saya dari sperma mereka dengan menggunakan tissu. Terasa perih sekali ketika tissu menyentuh bibir vagina saya. Setelah itu saya diantar pulang ke tempat kost saya. Saya sudah tidak bisa berjalan dengan benar, soalnya masih terasa perih di selangkangan saya. Saat turun dari mobil, saya berjalan pelahan-lahan dan tanpa mengenakan celana dalam dan BH, soalnya sudah sobek ditarik oleh mereka saat di dalam mobil tadi. Dari vagina saya masih keluar tetesan darah yang saya tutupi dengan tissu. Ketika sampai di dalam kamar saya langsung menyiram vagina saya dengan air supaya bersih, setelah itu saya berpakaian dan langsung tidur. Keesokan harinya saya bangun dengan keadaan badan yang sangat lelah dan selangkangan saya yang masih terasa perih.
Setelah melakukan kegiatan seperti biasanya, saya menelepon teman saya yang bernama jenny dan menceritakan apa yang terjadi semalam. Dia hanya diam saja dan bilang hebat juga kamu bisa main seperti itu. Kami lalu janjian untuk bertemu di suatu tempat untuk menceritakan kejadian semalam secara lengkap. Selama saya bercerita dia hanya bengong keheranan.
Kemudian Jenny mengajak saya untuk pergi menemaninya yang mau ketemu temannya. Setelah sampai di salah satu hotel saya dan Jenny nunggu temannya. Ternyata temannya itu adalah cowok bule, kami berbincang-bincang sebentar kemudian dia mengajak kami untuk ke kamarnya.
Sesampai di kamar ternyata cowok bule itu langsung memeluk Jenny dan langsung mencium bibirnya. Saya sempat heran karena tiba-tiba mereka langsung berciuman, tetapi tidak begitu saja, si bule (Brian) langsung dengan cepat membuka kaos Jenny dan tampaklah payudara Jenny yang cukup menantang kalau dilihat dari ukurannya, payudara Jenny lebih besar dari payudara saya. Sekarang saya hanya menonton Jenny dan Brian sedang saling berburu, melihat keadaan seperti itu membuat selangkangan saya mulai terasa gatal, tapi saya masih diam saja. Ketika Brian membuka celananya, terlihatlah ukuran penisnya yang aduhai, panjang dan besar, mungkin bisa 20 cm lebih ukurannya soalnya lebih besar dan panjang dari penis Dodi maupun Anwar. Jenny mulai mengurut-urut penis Brian yang super itu dan memasukkannya ke mulutnya hingga mulut Jenny penuh.
Tiba-tiba Jenny menghentikan hisapan dan memanggil saya untuk ikut main.Tanpa menjawab saya langsung membuka baju dan ikut main dalam pertempuran. Saya mulai menghisap puting susu Jenny dan Brian mulai mengusap-usap vagina saya, hal itu membuat saya kegeliah dan nikmat walaupun rasa sakit masih ada bekas kemarin.Ternyata Brian sudah makin ON dan mau memasukkan penisnya ke vagina saya. Saya langsung menolaknya dengan alasan kejadian kemarin.
Akhirnya dia mau mengerti juga. Dia langsung menyiapkan penisnya yang sudah maksimal dan diarahkan ke vagina Jenny dari belakang soalnya Jenny dalam keadaan nungging dan saya tetap dalam tugas yang sama yaitu menghisap payudara Jenny. Brian mulai memasukkan penisnya ke vagina Jenny, ternyata hampir tidak mengalami hambatan (mungkin sudah terlalu sering) dan Brian memasukkan semua penisnya ke vagina Jenny, dan semuanya dapat masuk terbenam di dalam vagina Jenny.
Mulailah Brian melakukan aksinya dengan maju mundurnya. Tidak lama kemudian Brian sudah mau keluar. Dia mulai melenguh-lenguh tapi dia bukannya mencabut penisnya dari vagina Jenny, malah mempercepat tempo permainannya dan keluarlah cairan putih itu dari vagina Jenny, baru Brian mencabut penisnya. Dan sayapun sudah keluar karena ulah tangannya Brian yang bermain di vagina saya. Akhirnya kami bertiga tidur sejenak di ranjang setelah itu kami kembali mengulanginya lagi sampai 3 kali.
Setelah selesai saya pulang bersama Jenny naik taksi dan sejak kejadian itu saya makin dekat dengan Jenny dan sering berbuat seperti itu, tapi saya kadang-kadang ikut dimasuki, kadang-kadang cuma jadi pemeran samping, malah saya pernah cuma nonton saja soalnya saya saat itu lagi haid, jadi puasa dulu.
TAMAT
createSummaryAndThumb("summary7731443472630235309");
READ MORE - First experience
Posted in
Bondage
0
komentar
Posting Lama
Langgan:
Entri (Atom)
Label
Cerita Dewasa
Berita
Bondage
Cerita Sex ABG
Setengah Baya
Cerita Sex Umum
Cerita Sex
Cerita Sex Perselingkuhan
Pesta Sex
Sedarah
Cerita Sex Artis
Cerita Sex Dewasa
Hiburan
Cerita Sex Setengah Baya
Unik
umum
Cerita 18+
Cerita Panas
Cerita Sex Sedarah
internet
Cerita Birahi
Cerita Selebritis
Cerita Sex Daun Muda
Cerita Sex Lesbian
Cerita Sex Pemerkosaan
Games
Hot Sex
Kesehatan
Perselingkuhan
Pesta Seks
Seks Tante Girang
Selebritis
Sex Umum
cerita abg
cerita kenthu
cerita ngentot
daun Muda
CERITA PORNO
Cerita Bokep
Cerita Cabul
Cerita Dewasa ABG
Cerita Dewasa Setengah Baya
Cerita Mesum
Cerita Ngenthu
Cerita Ngentot Seru
Cerita Pemerkosaan
Cerita Saru
Cerita Selingkuh
Cerita Sex Melayu
Cerita Sex Perawan
Dewasa
Events
Gadis Berjilbab
Gairah Seks
KUMPULAN Cerita Dewasa
Musik
Ngentot
Pemerkosaan
Pendidikan
Pengalaman Sek
TV
Tips Seks
cerita cula
cerita dewasa pemerkosaan
cerita hot
cerita perawat
cerita seru
fikmin 140 kata
foto
lowongan kerja
clicksor_adhere_opt='left';
clicksor_default_url = '';
clicksor_banner_border = '#99CC33';
clicksor_banner_ad_bg = '#FFFFFF';
clicksor_banner_link_color = '#000000';
clicksor_banner_text_color = '#666666';
clicksor_layer_border_color = '';
clicksor_layer_ad_bg = '';
clicksor_layer_ad_link_color = '';
clicksor_layer_ad_text_color = '';
clicksor_text_link_bg = '';
clicksor_text_link_color = '';
clicksor_enable_text_link = false;
clicksor_banner_text_banner = true;
clicksor_banner_image_banner = true;
clicksorcn_enable_layer_pop = false;
online marketing
More list Sponsord
var AdBrite_Title_Color = '0000FF';
var AdBrite_Text_Color = '000000';
var AdBrite_Background_Color = 'FFFFFF';
var AdBrite_Border_Color = '3D81EE';
var AdBrite_URL_Color = '008000';
try{var AdBrite_Iframe=window.top!=window.self?2:1;var AdBrite_Referrer=document.referrer==''?document.location:document.referrer;AdBrite_Referrer=encodeURIComponent(AdBrite_Referrer);}catch(e){var AdBrite_Iframe='';var AdBrite_Referrer='';}
document.write(String.fromCharCode(60,83,67,82,73,80,84));document.write(' src="http://ads.adbrite.com/mb/text_group.php?sid=2061991&zs=3136305f363030&ifr='+AdBrite_Iframe+'&ref='+AdBrite_Referrer+'" type="text/javascript">');document.write(String.fromCharCode(60,47,83,67,82,73,80,84,62));
Your Ad Here
Entri Populer
Tali BH Inez Tagor Lepas Ketika Menari
Kejadian menggelikan menimpa artis Inez Tagor (38). Lagi asyik - asyiknya menari, tanpa ia sadari kalau tali BH nya terlepas. Sontak, kejadi...
Crazy wife - 2
Kemudian Roni mengeluarkan penisnya lalu dengan menjambak kasar rambut istriku lalu menampar-namparkan kontolnya ke muka istriku, lalu denga...
Artikel Terkait
Most Wanted
var AdBrite_Title_Color = '0000FF';
var AdBrite_Text_Color = '000000';
var AdBrite_Background_Color = 'FFFFFF';
var AdBrite_Border_Color = '3D81EE';
var AdBrite_URL_Color = '008000';
try{var AdBrite_Iframe=window.top!=window.self?2:1;var AdBrite_Referrer=document.referrer==''?document.location:document.referrer;AdBrite_Referrer=encodeURIComponent(AdBrite_Referrer);}catch(e){var AdBrite_Iframe='';var AdBrite_Referrer='';}
document.write(String.fromCharCode(60,83,67,82,73,80,84));document.write(' src="http://ads.adbrite.com/mb/text_group.php?sid=2061991&zs=3136305f363030&ifr=